Semakin
terbatasnya jumlah lahan dan harga tanah yang cenderung tinggi di lokasi
strategis membuat sebagian orang kini mulai melirik hunian vertikal sebagai
alternatif, yakni apartemen. Jenis hunian ini menjelma menjadi salah satu primadona
bagi para pencari tempat tinggal.
Sebuah
riset di Harvard University, AS, pada beberapa tahun lalu memaparkan,
orang-orang pada rentang usia 25 hingga 34 tahun cenderung kurang tertarik
membeli rumah. Mereka lebih senang tinggal di apartemen.
Alasan
teratas bermuara pada urusan finansial. Dengan uang yang terbatas, mereka bisa
mendapatkan satu unit apartemen untuk disewa selama kurang lebih setahun.
Selain
itu, beberapa orang yang tinggal di perkotaan menganggap, apartemen lebih mudah
diakses dari lokasi aktivitas, seperti sentral bisnis dan komersial. Letaknya
strategis pula, karena umumnya berada di pusat kota.
Keuntungan
lain tinggal di apartemen yaitu beragamnya fasilitas yang membuat hidup terasa
lebih praktis. Dari mulai security 24 jam, parkir yang luas, area fitness,
hingga tempat perbelanjaan. Perawatan sekitar hunian pun cukup di dalam rumah
saja.
Secara nasional, kota yang paling banyak memilik
apartemen adalah Jakarta. Kemudian disusul Bodetabek, Surabaya, Bandung, Medan,
Makassar, Batam, Balikpapan,Semarang, dan beberapa kota lainnya.
Berdasarkan data Cushman & Wakefield Indonesia, per
kuartal III-2017 dari total jumlah apartemen yang tersedia (existing) di
Jabodetabek sebanyak 217.289 unit, sekitar 75,9 persen atau sebanyak 164.922
unit apartemen berada di DKI Jakarta.
Dari jumlah apartemen yang tersedia di Jabodetabek itu,
sekitar 52,7 persen adalah apartemen menengah, atau yang memiliki harga jual
Rp14 juta-Rp25 juta per meter persegi, setara dengan Rp504 juta-Rp900 juta
untuk tipe 36.
Sebagai
ibukota negara dan pusat bisnis nasional sudah selayaknya Jakarta memiliki jumlah
apartemen terbanyak. Dengan wilayah yang cukup luas beragam jenis apartemen
bisa ditemukan di wilayah ini. Bahkan, sewa apartemen murah sekarang sudah
semakin mudah ditemukan.
Hingga
akhir 2018, terdapat 201.817 unit apartemen di DKI Jakarta. Dari angka itu,
sebanyak 17.524 adalah unit apartemen baru di 2018. Colliers International Indonesia, mencatat tingkat keterisian apartemen
yang ada di Jakarta selama tahun 2018
hanya 69,8 persen, atau turun 1,4 persen dibanding 2017. Salah satu penyebab tingkat keterisian yang
menurun itu karena lemahnya permintaan sewa dari ekspatriat.
Secara
nasional, penjualan kondominium (apartemen) pada kuartal III-2018 lalu cukup moncer.
Tak terkecuali penjualan apartemen di wilayah DKI Jakarta yang merupakan pusat
bisnis Indonesia.
Laporan
Jones Lang Lasalle Indonesia menyebutkan, hingga kuartal III-2018 sekitar
62.513 unit apartemen di Jakarta terjual. Jika dipresentasekan, 64% apartemen
terjual dari stok unit yang tersedia saat ini.
Dari
total kondominium yang terjual didominasi oleh apartemen dengan tipe studio. Tipe
studio sendiri merupakan apartemen yang memiliki dua kamar tidur dan satu kamar
mandi. Sedangkan jika sesuai harga, tipe apartemen yang terjual ini beragam.
Namun yang paling laku terjual adalah apartemen dengan harga maksimal Rp1
miliar per unit.
Selain
itu, apartemen yang banyak diminati oleh pembeli di Jakarta juga merupakan
kondominium yang berkonsepkan Transit Oriented Development (TOD). Jenis
kondominium TOD sendiri merupakan apartemen yang letaknya dekat dengan
transportasi publik seperti Masa Rapid Transit (MRT) atau Light Rail Transit
(LRT).
Rata-rata harga apartemen selama 2018 ialah
Rp33,8 juta per meter persegi, atau naik 2,5 persen dibanding 2017. Hal itu
yang membuat apartemen hanya terjangkau ke masyarakat berpenghasilan menengah
ke atas.
Sementara itu, lembaga
Savills Research & Consultancy memperkirakan jumlah pasokan apartemen di
Jakarta mencapai puncaknya pada 2019. Total pasokan pada tahun ini diperkirakan
mencapai 23.163 unit di seluruh Jakarta. Savills memprediksi pasokan baru
mencapai puncaknya pada kuartal-III atau IV tahun 2019 sebanyak 22.976 unit dan
baru diprediksi selesai pada periode ini.
Perkembangan Apartemen di Jawa Barat
Permintaan (demand)
hunian vertikal (apartemen) di kota Bandung dan Jawa Barat secara umum pada
kuartal I-2018 juga terus menanjak. Hal itu seiring dengan kian mahalnya harga
tanah yang berkorelasi dengan semakin tingginya harga rumah tapak.
Permintaan tersebut, menurut salah satu pihak pengembang, juga ditunjang gaya hidup kaum milenial. Selain faktor tren, kepraktisan yang ditawarkan apartemen juga membuat semakin banyak kaum milenial yang memilih apartemen sebagai tempat tinggal.
Pejabat Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat (Jabar) mengatakan bahwa permintaan (demand) apartemen dan perkantoran di Bandung meningkat pesat. Bahkan, tingginya permintaan terhadap segmen apartemen dan perkantoran mendorong naiknya harga properti komersial.
Permintaan tersebut, menurut salah satu pihak pengembang, juga ditunjang gaya hidup kaum milenial. Selain faktor tren, kepraktisan yang ditawarkan apartemen juga membuat semakin banyak kaum milenial yang memilih apartemen sebagai tempat tinggal.
Pejabat Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat (Jabar) mengatakan bahwa permintaan (demand) apartemen dan perkantoran di Bandung meningkat pesat. Bahkan, tingginya permintaan terhadap segmen apartemen dan perkantoran mendorong naiknya harga properti komersial.
Pada kuartal I-2018 Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) tumbuh 0,38% (yoy). Pertumbuhan harga yang lebih tinggi, khususnya terjadi pada segmen ritel dan apartemen, dipicu peningkatan permintaan kedua segmen tersebut dibanding kuartal sebelumnya.
Alhasil,
pertumbuhan sektor properti di Jawa Barat itu dipicu oleh naiknya harga bahan
bangunan dan upah pekerja, serta biaya perizinan yang
cukup tinggi. Adapun indeks permintaan properti komersial dan indeks pasokan
properti komersial, masing-masing tumbuh 1,89% (yoy) dan 3,31% (yoy).
Khusus
untuk tiga kota Jabar yang merupakan kota penyangga DKI, yaitu Bogor, Depok dan
Bekasi, pasokan apartemen juga mengalami peningkatan pada tiga tahun terakhir
(2016, 2017, 2018).
Hingga kuartal I-2019, jumlah pasokan
apartemen di Bogor mencapai 9.739 unit dengan tingkat penjualan mencapai 85,8%.
Sedangkan untuk jumlah pasokan apartemen di Depok saat ini mencapai 18.460 unit
dengan tingkat penjualan mencapai 92,5%. Sementara Bekasi dan sekitarnya saat
ini sudah mencapai 44.598 unit dengan tingkat penjualan mencapai 82,4%.
Namun di antara ketiga area tersebut,
pertumbuhan pasokan apartemen di Bekasi paling signifikan. Selama setahun
terakhir pasokan apartemen di Bekasi mengalami pertumbuhan 16,9%, sedangkan
selama tiga tahun terakhir pertumbuhan pasokan mencapai 60,1%.
Pertumbuhan pasokan apartemen di Bekasi
didorong oleh sektor industrial, pertumbuhan jumlah penduduk, dan ditunjang
oleh pengembangan infrastruktur utama di sepanjang jalur Jakarta menuju Bekasi,
seperti lintasan Tol, KRL, serta LRT yang sedang dibangun.
Selanjutnya pertumbuhan apartemen di Bogor,
selama setahun terakhir mengalami pertumbuhan 14,1%. Sementara selama 3 tahun
terakhir pertumbuhan pasokan telah mencapai 37,2%.
Faktor pendorong pertumbuhan pasokan
apartemen di Bogor didorong oleh infrastruktur berbasis rel, pengembang
memanfaatkan konsep TOD untuk mengembangkan apartemen, dengan harga yang masih
terjangkau.
Adapun pertumbuhan pasokan apartemen di
Depok, selama setahun terakhir mengalami pertumbuhan hanya 7,0%, sedangkan
selama 3 tahun terakhir pertumbuhan pasokan mencapai 23,4%.
Faktor pendorong pertumbuhan pasokan
apartemen di Depok terutama didorong oleh ketersediaan pusat-pusat pendidikan
(universitas) ternama, sehingga pengembang lebih cenderung menyasar market
mahasiswa. Selain itu juga didorong oleh ketersediaan infrastruktur berbasis
rel.
Hingga saat ini rata-rata harga jual
apartemen di Bogor sudah berkisar Rp13,62 juta per meter persegi, Depok Rp15,54
juta per meter persegi, dan Bekasi Rp15,59 juta per meter persegi.
Pertumbuhan Apartemen di Sumedang
Selain
Bandung, dalam waktu satu dekade terakhir, pertumbuhan infrastruktur di kawasan
pendidikan Jatinangor, kabupaten Sumedang pun semakin pesat. Hal itu selaras
dengan pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumedang dan sekitarnya.
Jatinangor
merupakan kawasan pendidikan yang dihuni sejumlah universitas ternama seperti
IPDN (Institut Pendidikan Tinggi Dalam Negeri), Ikopin (Institut Koperasi
Indonesia), ITB (Institut Teknologi Bandung), dan Unpad (Universitas
Padjadjaran). Seiring dengan semakin meningkatnya populasi mahasiswa di sana,
banyak pengembang yang membangun infrastruktur di Jatinangor, salah satunya
adalah pembangunan apartemen.
Di
kawasan Jatinangor sekarang sudah berdiri megah lima apartemen dan dua pusat
perniagaan. Kelima apartemen tersebut, dua di antaranya bahkan persis di seberang
sebuah perguruan tinggi, menjulang tinggi seakan ingin menembus langit.
Apartemen-apartemen
tersebut sengaja membidik pangsa pasar kalangan mahasiswa di kawasan tersebut
yang ditaksir mencapai 70.000 mahasiswa dan pertambahan mahasiwa baru tiap tahun
mencapai 15.000 orang.
Selain
apartemen, berdiri pula beberapa hotel dan hunian berbentuk guest house, baik
yang fasilitasnya wah maupun standar.
Apartemen pertama di kawasan
Jatinangor Sumedang adalah Pinewood Apartement, yang dibangun oleh PT Mahkota
Inti Citra, member dari PT Bandung Inti Graha Group pada Juni 2010.
Apartemen ini terdiri atas
satu tower tiga blok dengan total 918 unit. Pembangunan apartemen dengan tinggi
mencapai 18 lantai, menggunakan lahan seluas 30.000 meter persegi. Sebelum
diresmikan pada tahun 2011, penjualannya sudah mencapai 50 persen dari total
unit kamar.
Setiap
unit Apartemen Pinewood dilengkapi desain cantik dan modern, ditunjang juga
dengan fasilitas internal seperti unit semi-furnished,
perabotan seperti meja makan, meja dan kursi belajar, kitchen set, rak
buku, wardrobe, tempat
tidur 2 susun, water
heater.
Pengembang
lain yang masuk dalam geliat bisnis apartemen di etalase Sumedang ialah PT Adhi
Persada Properti (APP) dengan proyeknya Taman Melati Jatinangor. Di lahan
seluas 4.600 m2, perseroan mengembangkan bangunan setinggi 16 lantai
berkapasitas 738 unit.
Untuk
mendukung pendapatan berkelanjutan, sebanyak 106 unit di antaranya dikelola
perusahaan sebagai apartemen hotel atau apartel. Sejak dipasarkan pada September
2013 dengan harga mulai dari Rp246 juta per unit, 85% sudah terserap pasar.
Komposisi pembeli antara investor dan pemakai (end user) adalah 50:50. Setiap unit tipe studio dibanderol Rp390
juta dan dua kamar tidur Rp700 jutaan.
Apartemen
lainnya adalah Easton Park Residence Jatinangor,yang dibangun oleh PT. Kalmar Land
dengan menggandeng Koperasi Keluarga Pegawai (KKP) ITB.
Saat
pertama kali dilaunching pada 2013, unit
Easton Park Residence Jatinangor dijual dengan harga Rp160 juta per unit,
tetapi pada akhir 2017 harganya sudah
mencapai Rp320 juta per unit. Hunian vertikal yang konstruksinya telah rampung
100% dan beroperasi sejak 2015 tersebut memiliki 1.535 unit.
Setelah
itu, apartemen Skyland City Education Park besutan PT Adhiloka Shobat Sewita
berkapasitas 740 unit. Sejak dipasarkan pada Februari 2014 dengan harga Rp11
juta per m2, sekitar 80% unit langsung terjual. Kini, harga sudah melambung di
kisaran Rp17 juta per m2.
Sebanyak
90% pembeli apartemen Skyland merupakan investor yang ingin menyewakan kembali
unitnya kepada mahasiswa. Adapun potensi sewa per bulan berkisar Rp2 juta–Rp4
juta. Skyland City Education Park direncanakan rampung pada 2023.
Apartemen
berikutnya adalah Louvin Apartment yang dibangun oleh PT. PP Properti Tbk,
sebagai salah satu anak perusahaan dari PT. PP Persero Tbk, yang bergerak di
bidang properti dan kontruksi.
Louvin
Apartment berdiri di atas tanah seluas 1,2 hektare dengan konsep dan memiliki 3
menara. Ground breaking sudah dilakukan pada Desember 2017 serta
peluncuran untuk menara 1 dengan kapasitas berjumlah 30 lantai, tapi yang
dipasarkan berjumlah 25 lantai. Total ada 714 unit apartemen untuk menara 1.
Dari Total 714 unit apartemen di menara 1 yang dipasarkan sejak November 2017,
sekitar 40 persennya telah terjual.
Namun
demikian, sejak medio 2016, sejumlah apartemen (Pinewood, Taman Melati,
Skyland, Easton Park) di wilayah Kecamatan Jatinangor tersebut diduga telah
beralih menjadi rumah susun sewa (rusunawa). Bahkan, apartemen yang berdiri di
kawasan pendidikan tersebut bisa disewa secara harian layaknya losmen maupun
hotel. Tarif per harinya konon berkisar Rp500.000 – Rp700.000.
Sebagaimana
diketahui, Izin apartemen itu ada dua kategori. Yaitu, apartemen rumah susun
milik (rusunami) dan ada rumah susun sewa (rusunawa). Sementara izin apartemen
di Jatinangor adalah rusunami yang diperuntukkan bagi kalangan menengah ke
atas/menengah ke bawah yang belum memiliki tempat tinggal. Kalau rusunami itu
semestinya dijual/unit, jadi hak milik, sebaliknya kalau rusunawa memang untuk
disewakan.
Alih fungsi
ini banyak disesalkan oleh beberapa tokoh di Kecamatan Jatinangor. Menurutnya,
alih fungsi ini tidak dibenarkan karena telah melanggar izin prinsip yang
dimilik setiap apartemen di wilayah Jatinangor.
Namun
menurut kalangan anggota DPRD Sumedang, alih peruntukan apartemen di Jatinangor
dari yang seharusnya dijual menjadi disewakan oleh manajemen imbas tidak
lakunya unit apartemen di wilayah Kecamatan Jatinangor.
Oleh
karenanya, DPRD Sumedang mendorong agar apartemen di sana berubah
peruntukkannya menjadi rusunawa.Kalau rusunawa dipastikan akan laku, sebab bisa
disewa oleh mahasiswa dan karyawan yang bekerja di sekitar wilayah industri di
Jatinangor, Cimanggung dan sekitarnya.
Proyeksi
Apartemen di Sumedang
Berdasarkan
rencana tata ruang Kabupaten Sumedang, Jatinangor akan dikembangkan menjadi
kawasan pendidikan. Kalaupun ada pembangunan insfrastruktur, akan tetapi
sebagai sarana penunjang pendidikan.
Prospek
apartemen untuk mahasiwa di Jatinangor tampaknya semakin menjanjikan. Tak heran
banyak pengembang mulai masuk menjaring ceruk segmen ini. Salah satunya adalah
PT. Trias Jaya Propertindo.
Perusahaan
pengembang yang berbasis di Batam itu menyasar mahasiswa di Jatinangor, sebagai
pangsa pasar dengan membangun apartemen Granada di atas lahan seluas 6.000 m2
pada kuartal ketiga tahun 2017. Perusahaan menargetkan mampu menyelesaikan
pembangunan Granada dalam 4 tahun ke depan, yakni pada 2021.
Perusahaan
tersebut menyiapkan dana Rp200 miliar untuk mengembangkan dua menara/tower
apartemen yang berkapasitas 400 unit. Setiap unit apartemen tersebut akan
dilepas dengan harga mulai dari Rp250 juta.
Apartemen
Granada akan menjadi pembangunan tahap
pertama di wilayah tersebut, karena perusahaan akan membentuk kawasan terpadu
di atas lahan seluas 2 hektare di tempat yang sama.
Selain
apartemen Granada, juga terdapat apartemen lainnya yang akan berdiri, antara
lain Jatinangor Grand Oase dari PT. Baktieland Tbk, dan Jatinangor Grand
Ostello oleh PT. Sukses Bangun Parahyangan.** (dz/dari berbagai sumber)



